Minggu, 14 April 2013

Sosok Guru Berprestasi







Siapa bilang guru atau pendidik tidak mengikuti perkembangan tekonologi terutama komputer ? Kali ini Kick Andy ingin mengajak Anda untuk bertemu dengan guru-guru yang tidak punya latar belakang keterampilan komputer, tetapi mereka mampu menciptakan media pembelajaran berupa animasi yang menarik dan lucu.
Dan, ternyata banyak dijumpai guru yang kreatif dan tidak gaptek alias gagap tekonologi.
Joko Triyono misalnya. Guru SMA Negeri 1 Prembun, Kebumen, Jawa Tengah ini menciptakan software atau piranti lunak berupa musik gamelan. Joko yang guru kesenian ini menciptakan gamelan virtual karena prihatin dengan fasilitas musik gamelan di sekolah yang sering tidak ada. ”Perangkat gamelan itu harganya mahal, jadi jarang sekolah yang mempunyai alat itu,” ujar Joko memberi salah satu alasan ia membuat gamelan virtual. Dengan gamelan virtual ini, Joko sangat memudahkan  mengajar anak didiknya tentang musik gamelan. Siswa tinggal memencet keyboard komputer sesuai dengan musik gamelan yang diinginkan.
Begitu juga halnya dengan Heru Suseno. Guru SMA Negeri II Madiun, Jawa Timur ini menciptakan animasi virtual tentang ilmu fisika. Heru yang lulusan Universitas Negeri Malang tahun 2000 itu menciptakan alat bantu pelajaran fisika sehingga mudah dipelajari dan menyenangkan. Bahkan, di dalam ciptaan Heru ini ditambahkan aplikasi yang diunduh dari YouTube berupa ledakan bom. ”Jadi anak didik akan lebih tahu jika bom yang terbuat dari senyawa kimia itu meledak,” ujar Heru Suseno menerangkan.
Ternyata seorang guru taman kanak-kanak dari Semarang, Jawa Tengah juga termasuk kreatif. Nura Uma Anissa, yang Guru Taman Kanak-Kanak Islam Al Azhar 22 ini menciptakan alat peraga berupa Mari Mengenal Indonesia. Melalui animasi ciptaannya itu, anak-anak diajak mengenal berbagai macam kebudayaan termasuk baju adat di Indonesia.  Animasi yang sederhana dan menarik itu dilengkapi dengan musik sebagai latar belakang.  Untuk membuat materi ajar ini, Nura benar-benar kreatif. Untuk baju adat misalnya, ia benar-benar mengambil gambar anak didiknya yang sedang memakai baju adat melalui camera handycam. Bahkan utuk pengisian suara juga ia lakukan sendiri.
Dengan ciptaannya ini, Nura baru-baru ini terpilih sebagai Runner Up Innovation in Challenging Microsoft Partners in Learning Asia Pasific Forum  yang digelar di Selandia Baru. Bahkan pada November mendatang ia akan berangkat ke Athena, Yunani untuk lomba pada tingkat dunia.
Yang mungkin tidak terbayangkan adalah apa yang dilakukan Estu Pitarto. Pak Guru Estu yang saat ini mengajar di SD Islam Al Azhar 14 Semarang, Jawa Tengah ini menciptakan software animasi yang mengangkat kebudayaan Jawa yang diberi judul ”Ayo, Sinau Aksara Jawa” atau Ayo, Belajar Huruf Jawa. Karya pria berusia 29 tahun dan lulusan IKIP Veteran Semarang ini  benar-benar orisinil. Sejak dini anak-anak diajak belajar dan bermain mengenal huruf-huruf Jawa yang sudah mulai punah. Atas ciptaannya ini Estu Pitarto baru-baru ini terpilih sebagai Juara I Kategori Most Innovative Teacher Competition 2011 yang digelar Microsoft Indonesia. Dan, Estu juga menjadi juara pada lomba yang sama di tingkat Asia Pasifik. Atas prestasinya itu, Estu berhak mewakili guru-guru di Indonesia untuk berlomba di tingkat dunia pada November 2012 mendatang yang akan diadakan di Athena, Yunani.
Kita doakan bersama agar guru-guru yang berprestasi itu bisa berhasil di tingkat dunia.

Sumber :kickandy.com

Cara Mengajar Yang Efektif


Ketika mengajar adalah hal yang kompleks dan karena murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Hal yang dibutuhkan dua hal utama yaitu: (1) Pengetahuan dan keahlian profesional; (2) komitmen dan motivasi.
Pengetahuan dan Keahlian Professional
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik. Guru yang efektif memiliki strategi pengejaran yang baik dab didukung oleh metode penetapan tujuan, perencanaan pengajaran, dan manajemen kelas. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid-murid dari berbagai latar belakang kultural. Mereka juga mengetahui cara menggunakan teknologi yang tepat guna di dalam kelas. Berikut adalah masing-masing penjelasan dari beberapa kriteria di atas.
1. Penguasaan materi pelajaran
Guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi. Tentu saja, pengetahuan subjek materi tidak hanya mencakup fakta, istilah, dan konsep umum. Ini juga membutuhkan pengetahuan dasar pengorganisasian materi, mengkaitkan berbagai gagasan, cara berpikir dan berargumentasi.
2. Strategi Pengajaran
Dalam hal ini bagaimana guru dapat membuat pengajaran materi dapat dikuasai oleh murid. Pada pendidikan model lama (tradisional) terlalu menekankan murid harus duduk diam, menjadi pendengar pasif dan menyuruh murid untuk menghafal informasi yang relevan dan tidak relevan. Kemudian berganti pada prinsip konstruktivisme, yaitu menekankan agar murid secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahamannya. Namun tidak semua ahli setuju dengan cara di atas, tetapi yang terpenting adalah walaupun anda menggunakan salah satu strategi di atas, masih banyak hal yang harus diketahui, hal-hal yang memberikan pengaruh dalam pengajaran yang efektif.
3. Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional
Guru yang efektif tidak sekadar mengajar di kelas, entah dia menggunakan perspektif tradisional atau konstruktivisme di atas. Mereka juga harus menentukan tujuan pembelajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
4. Keahlian manajemen kelas
Aspek penting lainnya untuk menjadi guru yang efektif adalah mampu menjaga kelas tetap aktif bersama dan mengorientasikan kelas ke tugas-tugas. Guru yang efektif dapat mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.
5. Keahlian motivasional
Guru yang efektif mempunyai strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar. Guru yang efektif tahu bahwa murid akan termotivasi saat mereka bisa memilih sesuatu yang sesuai dengan minatnya. Guru yang baik akan memberi kesempatan murid untuk berpikir kreatif dan mendalam untuk proyek mereka sendiri.
6. Keahlian komunikasi
Hal yang perlu diperlukan untuk mengajar adalah keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi non verbal dari murid, dan memapu memecahkan konflik secara konstruktif.
7. Bekerja secara efektif dengan murid dari berbagai kultur yang berbeda
Guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda, dan sensitif terhadap kebutuhan mereka. Mendorong murid satu dengan murid yang lain untuk berhubungan positif.

8. Keahlian teknologi
Guru yang efektif tahu cara menggunakan komputer dan cara mengajar murid menggunakan komputer untuk menulis dan berkreasi. Teknologi itu sendiri tidak selalu meningkatkan kemampuan belajar murid perlu kesesuaian antara kurikulum dengan teknologi yang sesuai dalam pengajaran.

Komitmen dan Motivasi
Menjadi guru yang efektif juga membutuhkan komitmen dan motivasi. Aspek ini mencakup sikap yang baik dan perhatian kepada murid. Komitmen sangat dibutuhkan dalam pengajaran, bagaimana guru memberikan tenaga dan pikiran untuk memberikan pengajaran yang dapat diterima oleh murid dengan baik. Guru yang efektif juga mempunyai kepercayaan diri terhadap kemampuan mereka dan tidak akan membiarkan emosi negatif melunturkan motivasi mereka.


Sabtu, 13 April 2013

Inside








Kata - kata bijak Pendidikan

Memahami lebih baik dari sekadar membaca.

Lebih baik belajar satu halaman per hari daripada belajar satu buku tapi cuma sehari.

Belajar adalah proses dimana orang tidak paham menjadi paham. Jika ingin memahami suatu hal, maka kuncinya adalah belajar.

Guru yang baik itu ibarat lilin – membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan orang lain.

Setiap orang berbakat di bidang tertentu. Kita hanya harus menemukan apa bakatnya

Seorang guru yang jujur harus berniat agar muridnya lebih pintar daripadanya, manakala seorang murid yang jujur harus pula mengakui kepintaran gurunya.

  
Pendidikan ialah sesuatu yang menentramkan, semakin di pahami semakin mengerti, yang membuat kita bingung adalah takut akan kegagalan.
 
Membaca, setelah beberapa waktu, menggelapkan pikiran terlalu jauh dari pencarian kreatif nya. Seseorang yang membaca terlalu banyak dan menggunakan otaknya terlalu sedikit akan menjadi kebiasaan malas berpikir.
 
Albert Einstein